Gerbang Udara di Bumi Papua

Papua, seperti kita semua tahu, memiliki kontur alam yang cukup ekstrim. Terdiri dari bukit-bukit yang berjajar dan gunung-gunung yang menjulang. Kalaupun ada daerah-daerah yang landai umumnya rawa maupun hutan belantara. Di luar pilihan tersebut, tanah datar yang terbuka dan cukup keras untuk dijejak paling-paling savana yang luasnya amit-amit, dan dibatasi oleh… bukit! *ngook*

Dengan kondisi lanskap yang seperti itu, cuma orang-orang yang kurang tantangan hidup yang memilih kemana-mana dengan moda transportasi darat di bumi cendrawasih.
Transportasi air bisa jadi pilhan. Baik yang melintasi pesisir pantai maupun menyusuri sungai. Cuma sayangnya waktu tempuh jadi lebih lama dan nggak semua jalur cukup aman untuk dilintasi. Contohnya saya dan teman-teman wartawan yang sebagian besar berasal dari Jayapura pernah menyisir laut Arafura untuk menuju Agats, Kabupaten Asmat, dari Timika.

Dalam perjalanan, speedboat yang saya tumpangi berkali-kali mati mesin karena bahan bakarnya tercampur air. Teman-teman yang lain mendadak jadi pendiam dan khusyuk berdoa, terutama ketika speedboat lagi-lagi mati di sekitar Pulau Tiga. Belakangan saya dikasih tahu kalau daerah situ sudah sering memakan korban orang hilang. Tanpa sebab yang jelas! Ada yang bilang karena perompak, ada juga yang bilang karena makhluk halus. Belum lama (dari saat itu) bahkan ada wartawan Trans7 yang hilang dan belum ketemu sampe sekarang.

Monyong!

Opsi lain adalah transportasi udara. Karenanya bandara menjadi fasilitas publik yang sangat krusial keberadaannya. Nggak jarang perkembangan suatu daerah di pulau kedua terbesar di dunia ini justru berkat bandaranya. Mulai dari kirim-kirim kebutuhan logistik sampai menjadi pintu gerbang paling awal bagi wisatawan yang berkunjung.
Nahh, buat yang over expectation dan membayangkan kalau bandara itu melulu seperti Soetta atau bandara Sultan Hasanudin di Makasar, pasti mangap liat bandara-bandara di Papua.

Anyway, ini beberapa yang pernah saya datangi… 

1. Bandar Udara Rendani, Manokwari
Manokwari adalah salah satu daerah di pesisir utara provinsi Papua Barat. Sedikit di utara Manokwari ada Pulau Mansinam yang menjadi daerah yang pertama kali dimasuki Injil di Papua. Hebatnya misionaris pembawa injil tersebut justru diantar oleh kapal Kesultanan Tidore. Keren ya! 🙂

Tapi kalo kapan pertama kalinya pesawat terbang memasuki daerah ini nggak banyak yang tahu juga, soalnya bandara Rendani ini sudah ada sejak jaman pemerintahan Hindia-Belanda. Kesan pertama saya ketika mendarat di sini adalah, bandaranya sepi ya.
Tapi setidaknya Rendani memiliki Take Off Runaway Area yang cukup panjang dan memenuhi syarat untuk didarati oleh pesawat-pesawat besar. Bahkan ketika saya di sana, kebetulan bertepatan dengan penerbangan perdana pesawat jet Garuda CRJ 1000 yang melintasi rute Makasar – Sorong – Manokwari – Jayapura. Cool! 🙂
 
2. Bandar Udara Torea, Fakfak
Salah satu bandara dengan landasan yang paling pendek, terutama untuk ukuran kota sesibuk Fakfak.

Fakfak sendiri adalah kota penghasil pala yang cukup terkenal. Muhammad Uswanas, bupati Fakfak, mengaku kalau 5% kebutuhan pala dunia berasal dari Fakfak.
Dengan kondisi bandara seperti itu, hanya pesawat-pesawat berjenis twin otter yang bisa mendarat di sana. Dan setiap kali akan take off, pesawat akan nge-gas hingga rpm mesinnya cukup tinggi, dan menyentaknya supaya bisa mencapai kecepatan take off 220 km/jam sebelum pesawat mengangkat moncongnya. Saya hampir ngejengkang ke belakang saat itu.

Lucunya, karena pesawat kecil, jadi bisa atau tidaknya untuk take off-landing benar-benar tergantung cuaca. Parameter paling sederhana adalah dengan ngeliat Pulau Panjang yang ada di lepas pantai Fakfak. Kalo pulau itu tertutup kabut saking buruknya cuaca, nggak usah ngarep banyak bakal ada pesawat yang berangkat atau mendarat.

Sayangnya nggak mungkin untuk memperpanjang landasan karena di ujungnya sudah turunan. Oh, i forget to tell you this…bentuk kota Fakfak memang berbukit-bukit. Bahkan selain bandara Torea, satu-satunya tanah datar di Fakfak hanya daerah reklamasi, yang itu pun dibangun dengan menimbun laut. Tapi belakangan saat ngobrol dengan sobat saya, Habib, baru tahu kalau sedang diproyeksikan untuk membuat bandara baru di tempat lain di Fakfak.

Semoga bandara barunya segera jadi ya. Karena kalau nggak setiap kali ke sana harus transit dulu untuk ganti pesawat di…
 
3. Bandar Udara Dominique Edward Osok, Sorong
Saat saya datang bandara ini sedang direnovasi sana-sini supaya fasilitasnya lebih lengkap. Soalnya bandara ini salah satu penghubung berbagai daerah dengan Raja Ampat. Iya, Raja Ampat yang jadi tujuan diving dan jadi surganya penyelam dari mancanegara 🙂

Di ruang tunggunya sering terlihat bule-bule yang lagi transit dari atau akan ke Raja Ampat. Saya cuma bisa berharap sambil mupeng kalo suatu saat bisa ke sana juga. Aamiin 🙂

But seriously… This facilities issue is quiet sucks yet riddiculus! Karena di sini saya transitnya cukup lama, saya memilih masuk VIP lounge bandara, yang ada logo CC salah satu bank swasta yang saya punya. Tapi waktu di front desk lounge si mbaknya bilang…

“Maaf Bapak, kita belum bisa terima CC karena sistemnya belum ada.”

“Oh, oke. Kalo gitu pake kartu debit aja deh.”

“Mesin debitnya rusak.”

“Nah lho… ATM di sini di mana?

“Keluar pintu, nanti naik ojek ke ruko atau pertokoan di ujung jalan raya.”

“Hah, jauh ajah! Trus kalo gitu buat apa ada logo itu bank?” Saya menunjuk.

“Biar… bonafid aja, Pak. Dipasang dulu, nanti sistemnya menyusul.”

Lah? Hahahahaha… 

4. Bandar Udara Sentani, Jayapura
Sebagai daerah yang sebelumnya sudah menjadi ibukota provinsi sebelum provinsinya dimekarkan, Bandara Sentani di Jayapura sudah lama menjadi bandara Internasional dan karenanya punya lalu lintas udara yang cukup sibuk.

Pertama kali mendarat di sana dan karena terbiasa sama bandara-bandara di daerah lain saya sampe ngebatin, kok rame banget ya? Banyak pesawat.

Well, itu esensinya bandara. Banyak pesawat karena emang tempat parkirnya! Heuhh… ^^’

Dan bandara Sentani ini jaraknya masih sekitar 1.5 jam perjalanan dari pusat kota Jayapura. Perjalanan dari bandara ke kota menyenangkan karena melipir sisi danau sentani yang cantik. Saat lewat sini saya jadi keinget sama junior di kampus yang namanya Sentani. Agak lucu juga punya nama dari nama danau. Tapi belakangan saya baru inget… Sentani itu nama yang dikasih temen-temennya karena dia berasal dari sini.
Nama aslinya…… saya justru lupa ^^’ 

Anyhoo, yang juga terkenal di deket bandara ini adalah…

Area Wajib Kondom Jayapura
Sentani Kiriii… 😀

5. Bandar Udara Mozes Kilangin, Timika
Nggak banyak yang bisa saya ceritain tentang bandara ini, kecuali di sini pertama kalinya saya ngeliat pesawat-pesawat jet pribadi parkir berjajar di apron. Dan pertama kalinya juga ngeliat penumpang jet yang langsung di jemput mobil mewah begitu turun dari pesawat, macem godfather di film-film mafia gitu. Punya siapa lagi kalo bukan perusahaan tambangpelabuhan bebas.

Untuk kepentingan perusahaan itu juga status bandara ini diresmikan menjadi bandara internasional pada bulan Juli 2008, selain memang landasan pacu yang seluas 2930 x 45 m memenuhi kualifikasi untuk itu sih. Tapi sejauh saya tanya-tanya atas dasar kepo, cuma dua minggu sekali ada penerbangan internasional dari Mozes Kilangin, yaitu ke Australia. 

6. Bandar Udara Wamena, Jayawijaya
Saking susahnya akses menuju ke sana, Wamena cuma bisa dimasuki melalui jalur udara. Cuma di Wamena juga saya liat uang kertas 20 ribu dan 50 ribu rupiah paling busuk seumur-umur saya idup. Jelek, kumal, dan nyaris robek. Saking di sana uang yang beredar ya itu-itu aja 😀

Tapi yang nyebelin dari bandara Wamena adalah penerbangan sini dimonopoli oleh satu maskapai!

Dimana-mana monopoli lebih banyak merugikannya daripada menguntungkan, khususnya untuk customer ya. Karena jadwal jadi semau-maunya dia. Penumpang bahkan harus nunggu berjam-jam sekedar memperbaiki kerusakan teknis yang sepele.Even worse, penerbangan ketiga atau terakhir di siang hari seringkali batal karena…… penerbangan keduanya terlalu ngaret.

Dia yang salah, kita yang kena getah. Pffft!

Tapi yang unik dari Bandara Wamena itu masih suka ada masyarakat asli yang ke bandara sambil pake koteka dan bawa segala perlengkapan adat. Nah! Jangan sekali-sekali iseng langsung motret mereka. Bakal diminta uang dan disuruh bayar!

Memang nggak semuanya cuma jual tampilan buat dipotret sih. Ada juga yang memang jualan marchendise asli buatan mereka seperti gelang, kalung, dan tas noken kecil. Seperti waktu saya akan pulang, di ruang tunggu bandara yang terbuat dari seng (seriousely!) seorang tua berkoteka menawari saya pernak pernik untuk oleh-oleh.

Yang mana susah sekali buat saya milih yang mau dibeli, karena dengan posisi yang duduk agak rendah dan dia berdiri, eye level saya persis ada di sekitaran selangkangannya. Tau dong gimana koteka dipake? Iya… Cuma ngumpetin batangnya ajah, sedangkan biji-bijinya gelantungan dengan jelasnya.

Akhirnya saya balikin pernak-perniknya sambil bilang, “Maaf nggak jadi, Pak. Gak fokus sayah…”

Heuheuu… ^^’ 

7. Bandar Udara Ewer, Asmat
Nahh, ini juga salah satu bandara paling ajib yang saya pernah datengin. Biar lebih seru, silahkan tonton aja reportase iseng-iseng saya di bandara ibukota kabupaten Asmat ini 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *