Pegang Kendali

Waktu perjalanan pulang dari Bandung hari Sabtu lalu Istri saya cerita tentang temannya di kantor. Senior sih lebih tepatnya ­čÖé

Jadi si Senior ini adalah salah satu staf teladan yang cukup baik menjalankan tugas-tugasnya, bahkan kenyataan kalau dia harus LDR dengan anak istrinya yang ada di Lampung pun nggak menghalangi performanya di kantor. Singkat kata si Senior ini staf yang cukup diperhitungkan keberadaannya.

Lalu seperti umumnya seorang ayah dan suami, setelah beberapa tahun bekerja Dia mau menghabiskan waktu lebih banyak sama keluarganya tanpa harus nyebrang selat sunda setiap seminggu sekali. Maka Dia mengajukan permohonan untuk dipindah ke kantor cabang yang dekat dengan keluarganya karena Istrinya nggak mau tinggal di kota besar.

Tapi melihat potensi dan kenyataan kalau Dia dibutuhkan di Jakarta, Kantor Pusat menahan dengan iming-iming kenaikan grade dan posisi. Senior ini pun bertahan.

Beberapa waktu berselang dan wacana akan naik pangkat tetap sekedar wacana. Si Senior ini pun mempertanyakan kejelasan statusnya.

“Jadi naik gak sih nih?” Mungkin gitu di benaknya. Kalau pun ngga, pindah ke cabang dirasa lebih baik daripada diberi harapan palsu.┬áDan kantor pusat kembali mengulur waktu dengan meminta Dia bersabar. Kali ini bener, akan ada posisi baru untuknya.

Sekian waktu kembali berselang, tapi posisi baru gak kunjung datang. Senior ini mulai gerah dan geram. Dia bilang nggak cuma minta dipindah ke cabang, tapi juga akan resign seandainya permohonannya nggak digubris.

Melihat gertak sambalnya yang ternyata pedas dan mahal, HRD di kantor pusat pun sadar kalau nggak bisa menahan lebih lama. Digantung emang nggak enak, coba aja pas kamu lagi mpup dan itunya masih ngegantung. Gak enak kan, Sob?

Ehm. Ngelantur…

Setelah diminta menunggu lagi, dengan syarat ada tenggat waktu kali ini, si Senior ini pun akhirnya dipindahkan ke posisi baru. Tapi sayangnya bukan ke posisi yang lebih tinggi, justru ke divisi yang jin-aja-males-buang-anak-di-situ. Suram! Gak keliatan ada cahaya harapan untuk karir dan masa depannya. Nasibnya terancam mentok di situ.

“Cuma sementara, sabar yah..” ujar bagian HRD sebelum meninggalkannya bersama Raqib & Atid di “pemakamannya”.

Enough is enough! Jerit batin si Senior. Cukup janji-janji manis-di-bibir-memutar-kata-malah-kau-tuduh-akulah-segala-penyebabnya.

Tapi sedihnya, ketika Dia sadar untuk ambil kendali,┬á11 tahun sudah berlalu dari pertama kali Dia minta dipindahkan ke cabang ­čÖü

Too damn late!┬áMau apa di usia yang sudah segitu? Pindah ke perusahaan lain, usianya sudah mendekati menit-menit terakhir injury time. Mau wirausaha, nggak punya pengalaman sama sekali, dan Dia nggak siap dengan “biaya kegagalan” yang harus dibayar di awal-awal mulai usaha.

Nah, Saya belakangan baru sadar kalau orang-orang kaya gini banyak. Yang menunda untuk take action karena terlalu nyaman ditimang-timang janji.

Janji mau naik pangkat atau jabatan.

Janji mau diangkat jadi pegawai tetap.

Janji mau dinikahin dan hidup bahagia kalau doi beneran udah cerai-in pasangannya (ouch! :p)

Sayang aja gitu… This is our life, after all. Kok mau sih biarin orang lain yang tentuin arah hidup kita?!

Satu hal yang Saya ambil dan terapkan di hidup setelah belajar nulis skenario adalah…

“Jalan cerita harus ditentukan oleh keputusan pemeran utama!”

Kaya Moana yang memutuskan untuk membalik arah perahunya dan melawan Te Ka sendiri walaupun nggak dibantu Maui.

Atau Judy yang memutuskan untuk kembali ke Zootopia setelah tahu kalau Pelolong Malam itu tanaman yang bikin siapa aja jadi buas.

Atau Po yang memutuskan buat menghadapi Kai dengan mengajar Kung Fu ke penduduk desa Panda alih-alih melarikan diri.

See?

Eh, anyway, sori referensinya film animasi semua. Efek nemenin bocah nonton mulu :p

Lanjut…

Kalo gitu apa bedanya sama hidup kita? Seharusnya sih nggak beda ya. Karena toh formulasi skenario juga dibuat berdasarkan pengamatan dari kehidupan orang-orang yang inspiratif┬ákok ­čÖé

Makanya Saya bersyukur untuk semua yang sudah didapet, dan bersyukur bisa ngejalanin bisnis yang ngajarin Saya banyak hal soal Digital Marketing ini. Hasil take action dan pegang kendali mulai dua tahun lalu.

Jadi Sob, kalo Kamu udah mulai gak nyaman dan galau sama kondisi sekarang, terkait apa pun itu… mau karir, hubungan, atau penghasilan. Mungkin sudah saatnya Kamu pegang kendali hidup Kamu, dan arahkan ke tujuan yang Kamu pengen.

You’d be surprise by the way you can achieve 2 or 3 years later, cuma gara-gara keputusan kecil yang Kamu ambil sekarang.

Percaya deh, Saya sudah buktiin… ­čśë

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *